Masa Depan Partai Demokrat dan Nakhodanya

Partai Demokrat memang fenomenal. Berdiri pada tahun 2002, Demokrat berhasil meraup 7,6% suara pada pemilu 2004, dalam usia yang belum genap dua tahun. Pada pemilu legislatif 8 April 2009, suara Demokrat meningkat hingga tiga kali lipat, 21%, mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono terpilih untuk kedua kalinya dalam pemilihan presiden pada 8 Juli 2009. Dari semula partai kecil, Demokrat menjelma partai besar, mengalahkan rival seniornya, Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Sebagai partai besar, Demokrat tentu menjadi kendaraan politik efektif bagi para politisinya untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Kursi ketua umum adalah yang paling menjanjikan. Menjadi ketua umum partai ini pastinya akan melapangkan jalan bagi pencapaian-pencapaian politik ke depan, terutama kursi kepresidenan. Dalam tradisi politik Indonesia di mana figur pemimpin sangat menentukan, wajar bila posisi ketua umum menjadi yang paling diperebutkan.

Pada sisi lain, kelangsungan hidup partai yang besar memang bersandar pada kepemimpinan dan manajemen yang baik. Artinya, dengan kondisi Partai Demokrat yang kini besar, makin besar pula tantangan dan tanggung jawab yang diemban oleh para pemimpinnya. Maka, menjadi Ketua Umum Partai Demokrat sesungguhnya bukanlah perkara mudah.

Tantangan
Siapakah yang layak terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam Kongres II Partai Demokrat di Bandung, 21-23 Mei mendatang? Menimbang soal ini, selayaknya  kita menengok kebutuhan Partai Demokrat ke depan terlebih dulu, sebelum melihat siapa calon yang tepat dan lebih berpeluang.

Setidaknya terdapat tiga tugas besar calon kandidat yang ingin maju menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Pertama, pelembagaan partai. Perkembangan pesat Partai Demokrat selama ini sangat bergantung pada figur SBY. Ini karakteristik umum politik kepartaian Indonesia mutakhir, bukan khas Partai Demokrat. Sebagaimana ditegaskan oleh Mujani dan Liddle (2010), selain kampanye media, kepemimpinan masih menjadi  faktor penting dalam politik kepartaian Indonesia.

Dalam jangka panjang, ketergantungan pada figur tentu tak baik bagi partai. Partai yang modern adalah partai yang secara kelembagaan kuat dan mapan, tak bergantung pada keberadaan figur. Partai Demokrat harus mengarah ke sana, jika ingin terus tampil dalam politik kepartaian Indonesia.

Kedua, penguatan budaya politik santun, bersih, dan demokratis. Kultur politik ini menjadi unsur penting bagi masa depan partai. Selain program partai, para pemilih tentu akan melihat pada para elite partai untuk menentukan pilihan. Sementara bagi partai, mengembangkan budaya politik yang santun, bersih, dan demokratis sekaligus menjadi cara tepat membangun citra.

Dalam tingkat tertentu, Partai Demokrat dapat mengembangkan budaya politik ini. Selayaknya, budaya politik ini tak hanya melekat pada figur-figur tertentu, tapi terinstitusionalisasikan dalam aturan main di dalam partai.

Ketiga, kaderisasi. Partai yang kuat dan solid adalah partai yang ditopang oleh kaderisasi yang kontinu dan terstruktur. Bergantung pada sekelompok elite yang telah senior, tentu hanya akan mengkerdilkan partai secara perlahan-lahan. Gerbong Partai Demokrat dikenal banyak berisi para elite senior. Regenerasi mesti dilakukan. Dan untuk itu, kaderisasi yang baik menjadi keniscayaan.

Peluang calon
Pada 15 April lalu, Anas Urbaningrum menyatakan siap maju sebagai calon Ketua Umum Partai Demokrat 2010-2015. Sebelumnya, Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie juga melakukan deklarasi serupa. Dengan demikian, Demokrat kini telah memiliki tiga kandidat: Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, dan Marzuki Alie. Bagaimanakah peluang ketiganya?

Salah satu data yang bisa dipakai adalah survei LP3ES pada 7 April lalu dengan responden survei para ketua cabang partai yang memiliki hak suara pada kongres 21-23 Mei mendatang. Dari tiga kandidat, Anas Urbaningrum memiliki elektabilitas tertinggi, yakni 46%. Sedangkan Marzuki Alie memperoleh dukungan sebanyak 21%, dan yang paling rendah adalah Andi Mallarangeng, hanya mendapat 2,1%

Dalam politik, konstelasinya memang cepat berubah. Pertimbangan pragmatis tentu yang paling utama. Akan tetapi, hasil survei itu setidaknya memberi gambaran tentang peta politik di tubuh Partai Demokrat terkini. Tapi yang lebih penting, figur itu dapat menjawab tantangan yang dihadapi oleh Partai Demokrat sebagaimana dikemukakan di atas. Dan Anas Urbaningrum agaknya memenuhi kriteria itu.

Anas Urbaningrum adalah muara pertemuan dua arus. Sebagai politisi muda, publik mengenalnya sebagai politisi yang tenang, santun, bersih. Namun, ia juga dikenal sebagai seorang intelektual cerdas dengan pikiran-pikiran lugas dan jernih. Himpunan Mahasiswa Islam dan Komisi Pemilihan Umum menjadi saksi bagi kiprah intelektualnya.

Visi Anas terlihat jelas dalam deklarasinya yang mengusung agenda institusionalisasi partai. Baginya, demi masa depan partai, peran sentral SBY sebagai figur penting dalam Partai Demokrat harus di transformasikan menjadi pelembagaan partai yang kuat. Ia juga menekankan pada konsolidasi internal dan kaderisasi partai. Dan yang tak kalah pentingnya, Anas secara tegas berorientasi pada pembangunan budaya politik yang bersih, santun, dan akuntabel.

Semua visi di atas memang masih di atas kertas. Tapi, dengan merujuk pada kiprah politik Anas selama ini, budaya politik yang dikembangkannya, serta didukung oleh hasil survei yang ada, bolehlah kita berharap masa depan Partai Demokrat ini dengan kehadiran Anas Urbaningrum di pucuk pimpinan tertinggi Partai Demokrat.

Asmar Oemar Saleh
Advokat, Mantan Deputi III Bidang Penanggulangan Pelanggaran HAM, Meneg-HAM RI

 

Add comment


Security code
Refresh