Anas, Demokrat, dan Pemilu 2014

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

BERBEDA saat Kongres II di Bandung pada 21-23 Mei lalu yang terkesan mewah, acara pelantikan pengurus pusat Partai Demokrat periode 2010-2015 di Cibubur pada 10 Juli lalu berlangsung sederhana. Kontras ini seperti menegaskan karakter ketua umum baru, Anas Urbaningrum, yang bersahaja.

Ketika arogansi politik citra banyak dicerca karena mengandalkan kekuatan modal tapi miskin substansi, Anas tampil dalam bursa pencalonan ketua umum dengan bersahaja. Kampanye mengutamakan kerja daripada iklan media. Acara pelantikan makin meyakinkan publik atas tipikal kepemimpinannya. Itu menjadi awal simpatik bagi kepengurusan baru.

Anas Urbaningrum--juga beserta Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Edhie “Ibas” Baskoro Yudhoyono--adalah simbol kebangkitan kepemimpinan muda di dalam partai. Terpilih menjadi ketua umum pada usia 41 tahun. Anas tampil, juga Ibas, menunjukkan regenerasi di tubuh Partai Demokrat. Keduanya menjadi kristalisasi harapan banyak orang akan kaum muda di pentas politik nasional.

Bekal Anas sangat mencukupi yaitu politisi dan intelektual. Sebagai politisi, citra politikus yang tenang, santun, dan bersih melekat pada sosok dia. Sebagai intelektual, dia dikenal cerdas dan memiliki pikiran-pikiran lugas dan jernih.

Visi progresif Anas terejawantahkan dalam agenda institusionalisasi figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi pelembagaan partai kuat. Visi konstruktif terletak dalam penekanan pada konsolidasi internal dan kaderisasi partai. Visi kebangsaan termanifestasikan dalam orientasi pada pembangunan budaya politik bersih, santun, dan demokratis.

Saat banyak partai mengalami konflik internal yang menjadi sebab kehancuran, Anas justru menganggap kompetitor sebagai kawan. “Politik Putih” ditunjukkan Anas ketika merangkul para pesaing dalam kepengurusan baru. Anas membangun tradisi politik kekeluargaan jauh dari semangat permusuhan dalam Partai Demokrat.

Anas Urbaningrum figur tepat yang dibutuhkan Partai Demokrat kini. Ketika banyak orang berbicara tentang kemandirian Demokrat, saatnya Demokrat melepaskan diri dari ketergantungan pada karisma SBY. Dia menawarkan gagasan institusionalisasi figur SBY.

Demokrat

Partai laksana organisme. Ia lahir, tumbuh, menjadi tua, jika tak pandai-pandai mengelola akan lekas mati. Proses menjadi besar dan kelangsungan hidup partai bersandar pada kepemimpinan dan manajemen yang baik. Inilah prasyarat utama yang tak bisa ditawar-tawar dan dimiliki semua partai yang tumbuh besar, termasuk Partai Demokrat.

Lahir pada 2002, Demokrat berhasil meraup 7,6 persen suara pada Pemilu 2004 dalam usia belum genap dua tahun. Pada pemilu legislatif 8 April 2009, suara Demokrat meningkat hingga tiga kali lipat, 21 persen. Dari semula partai kecil, Demokrat menjelma partai besar. Mengalahkan rival senior, Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Partai Demokrat menjadi kendaraan SBY meraih kursi presiden pada pemilihan presiden 2004. Lalu mengantarkan SBY terpilih kedua kali dalam pemilihan presiden pada 2009.

Sukses Demokrat memang tak bisa dilepaskan dari fakta ia tumbuh besar di bawah kepemimpinan yang baik. Namun, faktor penting lain tak bisa diabaikan. SBY figur sentral dalam Partai Demokrat. Dalam banyak hal menjadi faktor penentu kebijakan partai. Munculnya Partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu 2009 tak lepas dari karisma sosok SBY.

Dalam tradisi politik Indonesia, saat figur pemimpin sangat menentukan, wajar bila posisi ketua umum menjadi ujung tombak kejayaan sebuah partai. Aspek figur ini memang menjadi karakteristik umum politik kepartaian Indonesia mutakhir, bukan khas Partai Demokrat. Sebagaimana ditegaskan Mujani dan Liddle (2010), selain kampanye media, kepemimpinan masih menjadi faktor penting dalam politik kepartaian Indonesia.

Fakta pentingnya kepemimpinan tentunya berimplikasi pada makin besar pula tantangan dan tanggung jawab yang diemban oleh Anas Urbaningrum sebagai pemimpin eksekutif tertinggi di Demokrat. Bagaimanapun, masa depan Partai Demokrat, akan membesar ataukah malah mengecil, ditentukan sebagian oleh peran Anas Urbaningrum, sang ketua umum.

Target suara 30 persen pada Pemilu 2014 mendatang adalah batu ujian bagi kepemimpinan Anas. Bila berhasil memenuhi, berarti Anas sukses membesarkan Partai Demokrat. Yang paling penting, keberhasilan mencapai target ini akan menjadi bukti keberhasilan Anas dan jajaran membangun partai secara mandiri. Melepaskan diri dari bayang-bayang SBY menjadi keniscayaan bagi Demokrat sebagai partai modern yang solid dan mapan. Itu akan menjadi modal utama bagi kelangsungan partai di masa mendatang. Terlebih, kemandirian partai merupakan strategi jitu mencapai target jangka pendek, kemenangan pemilu 2014, ketika masa jabatan SBY berakhir dan figur penerus harus disiapkan.

Asmar Oemar Saleh, Ketua Departemen Pemajuan dan Perlindungan HAM DPP Partai Demokrat

 

Add comment


Security code
Refresh